Warga Sekitar PLTU Labuhan Angin ‘Kehilangan Laut’ dan Ruang Hidup

- Penulis

Senin, 10 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Tapanuli Tengah – Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin di Tapanuli Tengah, kian mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Dampak signifikan terhadap ekosistem laut, kualitas udara, serta perubahan cuaca makin dirasakan warga sekitar.

Nelayan setempat menuturkan, bahwa tangkapan ikan yang dahulu bisa mencapai berton-ton, kini nyaris punah. Kawasan pencarian kerang pun ikut terdampak.Air laut menjadi sangat panas, berbau tajam, bahkan terasa begitu menyengat hingga menusuk ke dada warga di pesisir.

Muncul dugaan bahwa, penyebab utama adalah pembuangan air panas (thermal effluent) dari PLTU ke laut atau sungai tanpa sistem pendinginan memadai. Selain itu, akumulasi polutan logam berat dari limbah abu pembakaran (fly ash, bottom ash) yang dapat mencemari habitat dasar laut, juga dan memicu kematian biota laut.

“Dulu suami kami memancing di pinggir-pinggir laut saja bisa dapat banyak ikan dan cukup untuk memenuhi ekonomi keluarga. Sekarang, bahkan kami pun sudah mulai menjauh dari bibir pantai supaya dapat ikan, namun tetap juga tidak dapat ikan,” ujar Siti Hasrani, pada median Oktober 2025 kemarin.

Getaran mekanis dari mesin produksi di PLTU diyakini mengusir ikan jauh dari kawasan tangkap. Ini diperparah oleh kebisingan konstan yang mengganggu kenyamanan dan aktivitas warga. Warga juga melaporkan bahwa suhu udara di sekitar semakin panas dan kulit mereka semakin menghitam akibat paparan panas dan polutan.

Direktur Yayasan Srikandi Lestari Sumiati Surbakti berdialog dengan warga di sekitar PLTU Labuhan Angin Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

“Memang suara dan getaran dari PLTU terasa sekali, itu juga pasti yang menyebabkan ikan-ikan semakin menjauh,” tambahnya.

Beberapa temuan ilmiah memperkuat kekhawatiran warga bahwa PLTU Batubara memang menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan manusia:

  1. Emisi Polutan Berbahaya
  2. Beban Kesehatan Masyarakat
    • Sebuah studi estimasi terhadap 88 PLTU batubara yang mendapat pembiayaan publik menyebut bahwa antara sekitar 6.000 hingga 10.700 kematian tahunan di sejumlah negara dapat dikaitkan dengan penyakit jantung, penyakit paru-paru kronis, dan kanker paru akibat emisi dari PLTU. Environmental Defense Fund
    • Peningkatan kapasitas pembangkit batubara secara per kapita dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker paru-paru; misalnya, sebuah penelitian menyatakan bahwa peningkatan kapasitas batubara per orang sebesar 1 kW dikaitkan dengan peningkatan relatif risiko kanker paru-paru sebesar 59 % pada laki-laki dan 85 % pada perempuan. BioMed Central
    • Penduduk yang tinggal di dekat PLTU batubara menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, bahkan kematian prematur dibandingkan daerah yang jauh dari sumber polusi. unc.edu+2PMC+2
  3. Risiko Pencemaran Air dan Lahan
    • Struktur kolam abu (ash pond) yang digunakan untuk menyimpan limbah abu sering kali tidak dilengkapi lapisan pelindung (liner), sehingga polutan dapat merembes ke dalam air tanah dan badan air di sekitar.
    • Ketika kolam abu bocor atau tandas, zat toksik dari fly ash dapat mencemari sungai dan ekosistem perairan, mengganggu kehidupan biota air dan kualitas air yang digunakan masyarakat. unc.edu+2Wikipedia+2
    • Selain itu, batubara dan abu pembakaran juga mengandung unsur radioaktif seperti uranium dan thorium, yang dalam konsentrasi tertentu bisa menambah beban radioaktif lingkungan. Wikipedia+1

Aduan masyarakat dan penelitian ilmiah menunjukkan beberapa poin penting yang menjadi sorotan:

  • Berkurangnya ikan, air laut panas, bau menyengat, dan berkurangnya biota laut, hal ini sesuai dengan pola polusi termal, bahan kimia, dan perubahan habitat laut.
  • Tanpa pengelolaan limbah yang baik (termasuk pendinginan air buangan dan penanganan abu beracun), PLTU memiliki potensi besar merusak ekosistem laut dan kualitas air.
  • Polusi udara dan emisi gas & partikulat dari PLTU dapat berkontribusi terhadap suhu udara lokal, efek panas mikroklimat, bahkan memperparah gelombang panas.
  • Status akses terbatas ke hutan dan kebisingan intensif menjadi sorotan terkait hak masyarakat untuk memperoleh ruang hidup yang aman dan sehat. (YSL)
Facebook Comments Box

Berita Terkait

Diduga Dikriminalisasi PT ALAM, Keluarga Moses Tuntut Keadilan
Komitmen Pelayanan Humanis, Kakanwil Ditjenpas Sumut Monitoring Layanan Idul Fitri di Lapas Pancur Batu
DPD KOMBAT Langkat Buka Puasa Bersama dan Santuni Yatim Piatu
Ketua Harian KOMBAT Sumut Minta Kader Kawal Pemerintahan Rico-Zaki
Perkuat Silaturrahmi, KOMBAT Sumut Gelar Buka Puasa Bersama
Baksos Ramadhan, KOMBAT Langkat Bagikan 1.447 Takjil
PT MTJ Bagikan 500 Paket Bahan Pangan di Momen Ramadhan 1447 H
BAPERA Ingatkan Pemkab Langkat Segera Realisasikan Pembangunan Infrastruktur
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 16:50 WIB

Diduga Dikriminalisasi PT ALAM, Keluarga Moses Tuntut Keadilan

Senin, 23 Maret 2026 - 14:52 WIB

Komitmen Pelayanan Humanis, Kakanwil Ditjenpas Sumut Monitoring Layanan Idul Fitri di Lapas Pancur Batu

Selasa, 17 Maret 2026 - 12:02 WIB

DPD KOMBAT Langkat Buka Puasa Bersama dan Santuni Yatim Piatu

Senin, 16 Maret 2026 - 11:12 WIB

Ketua Harian KOMBAT Sumut Minta Kader Kawal Pemerintahan Rico-Zaki

Kamis, 12 Maret 2026 - 08:35 WIB

Perkuat Silaturrahmi, KOMBAT Sumut Gelar Buka Puasa Bersama

Berita Terbaru

Menu MBG dari SPPG Terluk Meku, Kecamatan Babalan, Langkat yang diduga menyebabkan anak mual dan sakit perut.

Headline

Viral!!! Menu MBG SPPG Teluk Meku Babalan Tak Layak Konsumsi

Selasa, 31 Mar 2026 - 18:17 WIB

error: