Dari Buku Gambar ke Blok Catatan: Perjalanan Firman Amar ZamZami Menjadi Jurnalis

- Penulis

Minggu, 20 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Medan — Tidak banyak yang tahu, masa kecil Firman Amar ZamZami dihabiskan dengan pensil warna dan buku gambar.

Anak yang beranjak dari keluarga sederhana ini tumbuh di lingkungan padat di Kota Medan, tempat ia pertama kali mengenal dunia.

Sejak kecil, Firman sudah menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang berkaitan dengan narasi.

Ia suka mencatat hal-hal kecil yang ia lihat di sekitar rumah: tetangga yang bertengkar, suara azan maghrib, hingga suara hujan di atas atap seng.

Semua itu ia tulis seadanya dalam buku tulis bekas sekolah abangnya.

“Waktu SD, saya suka menulis cerita sendiri dan bacain ke teman-teman di kelas. Kadang ceritanya aneh-aneh, tapi mereka senang dengar,” ungkap Firman suatu ketika dalam obrolan santai.

Ketika remaja, ketertarikannya terhadap dunia tulis semakin kuat. Ia aktif di majalah dinding sekolah, dan mulai mengirim tulisan ke media lokal, meski banyak yang tidak dimuat, namun ia tidak menyerah.

Dunia jurnalistik terus ditekuninya, begitu tamat sekolah ia mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya soal kata-kata, tapi juga tentang keberanian menyuarakan yang benar.

Dunia media membentuk cara pandangnya. Ia belajar mendekati sumber berita, menggali informasi, dan merangkai fakta menjadi tulisan yang bermakna.

Kini, Firman dikenal sebagai salah satu jurnalis senior di Medan. Ia banyak menulis isu-isu sosial dan sering turun langsung ke lapangan, bahkan dalam kondisi sulit.

Meski dikenal kritis, ia tetap menjaga prinsip untuk tidak menyudutkan tanpa data.

“Jurnalisme bukan soal siapa paling cepat. Tapi siapa yang paling jujur dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi,” kata Firman.

Di balik kesibukannya, ia tetap sosok ayah bagi anaknya di rumah. Ia tak pernah lepas dari peran sebagai pendengar setia cerita anaknya, sebagaimana ia dulu senang didengarkan.

Perjalanan Firman dari masa kecilnya yang penuh imajinasi hingga menjadi jurnalis hari ini adalah kisah tentang ketekunan, kejujuran, dan cinta pada kata.

Dan di usianya yang terus bertambah, ia masih meyakini bahwa menulis adalah bentuk doa paling jujur untuk masa depan. “Selamat Ulang Tahun Firman, this is your day”. (red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Agus Andrianto Santuni 1.000 Bilal Mayit dan Najir Masjid di Medan
Dipimpin Agus Santoso dan Dwi Suhatmoko, IPK Medan Sunggal Gelar Aksi Sosial Berbagi Takjil
Kakanwil Ditjenpas Sumut Yudi Suseno Tutup MTQ Lapas/Rutan se-Sumut dalam Gebyar Nuzulul Qur’an di Lapas I Medan
Panen Raya Lele dan Hidroponik, Lapas Kelas I Medan Hasilkan Ratusan Kilogram Produk Pembinaan WBP
KOMBAT Medan Apresiasi 100 Hari Kinerja Kapolrestabes Medan
Perkuat Zona Integritas Tanpa Kompromi, Kakanwil Ditjenpas Sumut Lakukan Assessment Tim ZI
Dukung Asta Cita Presiden, Lapas Perempuan Medan Panen Pakcoy dan Sawi dari Kebun Hidroponik
Rutan Kelas I Labuhan Deli Perkuat Sinergi Antarinstansi Melalui Silaturahmi Bersama Stakeholder
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 09:45 WIB

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Agus Andrianto Santuni 1.000 Bilal Mayit dan Najir Masjid di Medan

Jumat, 13 Maret 2026 - 19:16 WIB

Dipimpin Agus Santoso dan Dwi Suhatmoko, IPK Medan Sunggal Gelar Aksi Sosial Berbagi Takjil

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:08 WIB

Kakanwil Ditjenpas Sumut Yudi Suseno Tutup MTQ Lapas/Rutan se-Sumut dalam Gebyar Nuzulul Qur’an di Lapas I Medan

Rabu, 11 Maret 2026 - 22:41 WIB

Panen Raya Lele dan Hidroponik, Lapas Kelas I Medan Hasilkan Ratusan Kilogram Produk Pembinaan WBP

Kamis, 19 Februari 2026 - 13:40 WIB

KOMBAT Medan Apresiasi 100 Hari Kinerja Kapolrestabes Medan

Berita Terbaru

error: