Hasan Tamora : Satu Cahaya Padam, Seribu Hati Menangis

- Penulis

Sabtu, 28 Juni 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TANJUNG MORAWA

Di antara derai doa dan langit yang sendu, sosok itu telah berpulang. Hasan Tamora, bukan pejabat dan bukan pula selebritas—tapi dialah orang yang membuat ribuan kaki melangkah menuju satu rumah duka.

Malam ketiga wafatnya menjadi saksi bisu bahwa kepergiannya bukan sekadar kehilangan, tapi patahnya sebuah harapan kolektif.

Dari ujung gang sempit hingga jalan utama Tanjung Morawa, orang-orang datang. Mereka tak diundang secara resmi, tapi diundang oleh rindu. Undangan yang lahir dari kebaikan Hasan, yang pernah mengetuk pintu mereka, menggenggam tangan mereka, atau sekadar duduk mendengar keluh kesah mereka tanpa banyak bicara.

Hasan, seorang tokoh pemuda yang hidupnya sederhana, tapi cintanya luas. Ia tidak memiliki banyak, tapi memberi lebih dari cukup. Ia tidak mencari sorotan, tapi justru jadi pusat perhatian—karena kasihnya yang tak bersyarat.

“Dia Ada Sebelum Kita Memanggil”

Di tengah pengajian malam ketiga, seorang bapak tua menggenggam tasbih, lalu menoleh ke arah pelayat. “Saya belum pernah tahu, ada orang seperti dia. Saat istri saya wafat, Bang Hasan yang datang pertama. Dia bantu ngurus pemakaman. Tanpa pernah kami minta,” katanya, lirih.

Air matanya tak bisa dibendung. Seperti juga pelayat lainnya. Bahkan beberapa warga yang tumbuh bersama Hasan pun terduduk diam, tak kuasa berkata.

Seorang pemuda dengan mata bengkak berucap, “Ketua  Hasan bukan cuma inspirasi. Dia teladan. Dia hidup seperti kita, tapi jiwanya jauh di atas kita.”

Membangun dengan Cinta, Bukan Kuasa

Hasan dikenal sebagai pemimpin dan penggerak komunitas. Dari gerakan kebersihan kampung, pengajian remaja, hingga literasi anak-anak jalanan. Ia percaya bahwa perubahan bukan soal dana besar, tapi soal keberanian memulai dari hal kecil.

Ia juga pengayom. Pernah suatu malam hujan deras, warga menemukan Hasan tengah membantu seorang anak yang sakit demam tinggi ke klinik. “Anaknya bukan siapa-siapa, tapi Hasan tak biarkan menunggu,” kata seorang tetangga. “Kalau bukan dia, siapa lagi?”

Kisah seperti itu tak satu dua. Tapi ratusan, bahkan ribuan. Ia membantu membenahi rumah jompo yang bocor. Menyumbangkan motor tuanya agar bisa dijual demi biaya pengobatan tetangga. Semua dilakukan diam-diam.

“Ia tak pernah pamer, justru sering menyembunyikan kebaikan,” ucap seorang tokoh masyarakat yang tak kuasa menahan tangisnya.

Warisan yang Tak Pernah Usang

Kini, setelah ia tiada, komunitas sosial yang ia rintis satu per satu berikrar: melanjutkan perjuangan Hasan, sebuah gerakan yang melestarikan prinsip-prinsip yang Hasan ajarkan: peduli tanpa syarat, membantu tanpa menunggu.

Anak-anak yang dulu ia bimbing kini mulai dewasa. Mereka bersaksi bahwa Hasan bukan hanya mendidik, tapi menanamkan harapan. Harapan bahwa dunia ini masih bisa sembuh, asal kita saling jaga.

Doa yang Mengalir Seperti Sungai

Tausiyah malam itu ditutup dengan doa. banyak yang tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. “Jika setiap amal Ketua Hasan adalah cahaya, maka kampung ini takkan pernah gelap.”

Langit malam seperti turut mendoakan. Angin bertiup pelan. Daun-daun tak berani jatuh. Dan ribuan hati yang datang malam itu, pulang membawa satu nama yang akan terus mereka bisikkan dalam doa-doa panjang: Hasan Tamora.(red)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bersama Masyarakat, Polsek Kuala Laksanakan Program Green Policing
Ketum PP ISARAH Amanahkan Abdul Thaib Siahaan Selenggarakan Muktamar XII Ikatan Sarjana Al Washliyah
Disorot dalam Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, MRN Disebut Terkait Perusahaan EPS dan TP2D Kabupaten Bekasi
Ngaku Jadi Korban Pelecehan Seksual, Karyawati Kawasan EJIP Cikarang Laporkan Ketua Serikat Pekerja
Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Ketua Serikat Pekerja, Karyawati di Cikarang Minta Perlindungan LPSK
Kapolri Ditantang Buktikan “No Viral No Justice”, Karyawati Cikarang Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ketua SP
Kapolri Ditantang Buktikan “No Viral No Justice”, Karyawati Cingkarang Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ketua SP
‎Soroti Keselamatan Transportasi, ‎PB ALAMP AKSI Desak Menhub Bergerak: Jangan Tunggu Korban Berjatuhan Lagi

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Bersama Masyarakat, Polsek Kuala Laksanakan Program Green Policing

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:42 WIB

Ketum PP ISARAH Amanahkan Abdul Thaib Siahaan Selenggarakan Muktamar XII Ikatan Sarjana Al Washliyah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:30 WIB

Disorot dalam Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, MRN Disebut Terkait Perusahaan EPS dan TP2D Kabupaten Bekasi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:07 WIB

Ngaku Jadi Korban Pelecehan Seksual, Karyawati Kawasan EJIP Cikarang Laporkan Ketua Serikat Pekerja

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:49 WIB

Kapolri Ditantang Buktikan “No Viral No Justice”, Karyawati Cikarang Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ketua SP

TERKINI

Rumah warga di Dusun II, Desa Pamah Tambunan, Kecamatan Salapian yang ludes terbakar.

Peristiwa

Diduga Karena Lilin, Tiga Rumah Warga Salapian Ludes Terbakar

Sabtu, 24 Okt 2026 - 11:54 WIB