Petani Sayuran Keluhkan Pencemaaran Pabrik Pengolahan Blended Sawit

Minggu, 8 September 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pabrik pengolahan blended di Dusun Mandiri I, Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Langkat yang meresahkan warga.

Pabrik pengolahan blended di Dusun Mandiri I, Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Langkat yang meresahkan warga.

Stabat – Petani sayuran di Dusun Mandiri I, Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Langkat mengeluh. Aktivitas pengolahan minyak kotor (Miko) alias blended sawit di sana, memberikan dampak negatif bagi hasil panen. Mulai dari asap, hingga abu dari proses pengaolahan limbah crude palm oil (CPO) itu, sangat berpengaruh bagi hasil panen petani.

Hal ini seperti yang disampaikan Adi Gombloh, patani yang lahannya persis di dekat pabrik blended milik Su. Ia mengaku, asap dari pabrik itu kerap membuat nafasnya sesak. Sayuran yang ia tanam pun tak lagi tumbuh subur seperti biasanya.

Hasi Panen Menurun

“Yang jelas, hasil panen kurang bagus lah. Sangat berpengaruh pada hasil panen kami di sini. Bau, asapnya dampaknya ntah cemana kita gak tau. Apakah pengaruh sama tanaman kita pun gak tau. Yang penting baunya sangat menyengat,” kesal Adi, Minggu (8/9/2024) sore.

Bahkan, menurut Adi, rekan-rekannya sesama petani sayuran sering mengalami gagal panen. Tanaman sayur kacang panjang dan paria gagal panen. Kalau sawi, biasa tumbuhnya gampang, sekarang susah untuk tumbuh.

Polusi Udara

Sejak lebih kurang setahun aktifitas pabrik pengolahan blended tersebut, penurunan hasil panen sangat drastis. Petani di sana berharap, agar tidak ada lagi pencemaran. Mereka mendesak pihak terkait untuk segera menghentikan aktivitas pabrik tersebut.

Pabrik pengolahan blended di Dusun Mandiri I, Desa Karang Rejo, Kecamatan Stabat, Langkat yang meresahkan warga.

“Kalau bisa ditutup, gitu aja udah. Biar kami aman bertani. Biar gak ada bau dan pencemaran di sini. Belum ada kordinasi dengan pihak desa. Semua masih tenang-tenang saja,” kesal Adi.

Amatan awak media di lokasi, terdapat karung-karung berisi blended yang siap diolah. Limbah dari aktivitas di sana, seperti tak terkontrol dengan baik. Lumpur limbah berwarna hitam dan berbau, berserakan di dalam lokasi tersebut.

Tak hanya petani, warga yang cukup jauh dari lokasi tersebut juga mengeluhkan polusi udara. “Kalau produksi, baunya sampai ke pemukiman kami. Sangat menyengat baunya. Warga di sini ya merasa terganggu lah. Kami minta, agar pabrik itu segera ditutup,” ketus Misni, diamini warga lainnya. (Ahmad)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Aminullah Siagian Tantang Hotman Paris Tunjukkan Dasar Hukum Tersangka Jaksa Harus Izin Presiden
Relawan dan Mahasiswa Antusias Menanti Bobby Nasution di Nias
Perjalanan Inspiratif Jeka Saragih, dari UFC Kini Bangun Mimpi Atlet Simalungun
JAGA MARWAH: Penggeledahan Kafe Terkait Jampidsus Jangan Dijadikan Alat Pelemahan Kejaksaan RI
Arif Tanjung Dukung Percepatan Perbaikan Jalan dan Normalisasi Drainase di Medan
SOKSI Padangsidimpuan Perkuat Sinergi dengan Kejari, Bahas Advokasi Hukum & Perlindungan Hak Masyarakat
Hanya Paviliun Pemko Medan yang Tutup Saat Pembukaan PRSU!
GAMKI Apresiasi Gerak Cepat Gubsu Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut Lewat Extra Flight

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:01

Aminullah Siagian Tantang Hotman Paris Tunjukkan Dasar Hukum Tersangka Jaksa Harus Izin Presiden

Selasa, 14 Juli 2026 - 16:02

Relawan dan Mahasiswa Antusias Menanti Bobby Nasution di Nias

Senin, 13 Juli 2026 - 21:56

Perjalanan Inspiratif Jeka Saragih, dari UFC Kini Bangun Mimpi Atlet Simalungun

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:37

JAGA MARWAH: Penggeledahan Kafe Terkait Jampidsus Jangan Dijadikan Alat Pelemahan Kejaksaan RI

Senin, 6 Juli 2026 - 21:36

Arif Tanjung Dukung Percepatan Perbaikan Jalan dan Normalisasi Drainase di Medan

Berita Terbaru